Page 1 of 2

Belum lama ini Petugas Bea Cukai Palembang bekerja sama dengan BNN Prov Sumsel dan Dit Narkoba Polda Sumsel berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu sebanyak 10 kapsul atau seberat 489 gram. Aksi tersebut merupakan satu di antara sekian banyak upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

Tak sedikit yang berpendapat bahwa, maraknya penyebaran narkoba di Indonesia merupakan bentuk instrumen perang modern (proxy war) oleh negara asing. Tujuannya tak lain adalah untuk menggerogoti Indonesia lewat hancurnya mental generasi mudanya.

Sebesar 27,32 persen dari jumlah pengguna narkoba di Indonesia berasal dari pelajar dan mahasiswa. Tak hanya itu, persentase tersebut mengalami pertambahan setiap tahunnya.

Tingginya angka penyalahgunaan obat terlarang pada kaum muda di Indonesia ini sangat dipengaruhi oleh pergaulan. Selain itu, pelajar dan mahasiswa memang menjadi target atau sasaran utama para pengedar narkoba.

Hingga kini penyebaran narkoba boleh dikatakan hampir tak bisa dicegah. Mengingat banyaknya kaum muda Indonesia yang dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa di daerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan geng.

Namun bukan berarti penyebarannya tidak bisa dilawan. Melawan penyebaran narkoba tidak bisa bergantung pada instansi pemerintah saja, keluarga dan masyarakat harus turut aktif juga. Berikut sedikit tips upaya mencegah meluasnya penyebaran narkoba di kalangan pemuda Indonesia.

  1. Dukungan moral

Masyarakat, orang tua dan kerabat dekat harus memberi dukungan moral yang positif tentang pemahanan bahaya narkoba di masa depan.

  1. Dukungan instansi pendidikan

Isntansi pendidikan, baik pengajar maupun seluruh elemen yang terkait harus turut memberikan penyuluhan akan dampak negatif narkoba bagi kualitas otak dan kecerdasan mereka.

  1. Memberikan informasi dampak negatif narkoba sedini mungkin

Tak hanya remaja, anak-anak usia dini seringkali juga menjadi sasaran peredaran narkoba. Keluarga tak perlu menunggu anak menginjak usia remaja baru memberikan informasi tentang bahaya narkoba. Sedini mungkin ditanamkan akan menjadi modal besar anak di masa mendatang untuk melindungi dirinya dari jerat narkoba.

  1. Tak perlu “dipingit”

Takut sang anak terkontaminasi narkoba itu sah-sah saja, namun mengekang kebebasan anak juga tidak serta merta menjadi jawaban. Jika dikekang, anak akan cenderung melawan atau membrontak dan berujung pada pencarian pelampiasan. Kondisi ini yang membuat usia remaja menjadi semakin rentan. Memberikan informasi dan dukungan moral positif, serta mengarahkan ke hal-hal dan kegiatan positif adalah cara yang paling tepat.

  1. Kembangkan potensi anak se-optimal mungkin

Mengarahkan anak ke kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti diikut sertakan pada komunitas yang sesuai dengan hobinya. Namun jangan lupa hal itu adalah sebuah bentuk dukungan mengoptimalkan potensi, jangan lantas dilepas tanpa pengawasan dan arahan.

Demikianlah setidaknya lima hal yang bisa dilakukan sebagai keluarga dan bagian dari masyarakat untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran narkoba di kalangan remaja. Bentuk dukungan yang tepat dari semua elemen masyarakat akan membuat kaum muda merasa percaya diri untuk melindungi diri mereka dari pengaruh narkoba.

Memang tak bisa dijadikan acuan, namun menjadi tokoh publik menjadi salah satu pintu masuknya penyalahgunaan narkotika dalam hidupnya. Sebut saja sederetan nama besar dari dunia musik, seni peran bahkan tokoh politik hingga tokoh pemerintahan, kerap terjerumus dalam jeratan obat terlarang tersebut.

Memang siapa saja berisiko besar terjerat narkoba, apalagi dengan kondisi mental digempur deretan stres dan depresi. Lantas apa yang menjadi faktor banyaknya tokoh publik kerapkali terlibat dalam kegiatan penyalahgunaan narkotika? Berikut rangkumannya

  1. Tekanan pekerjaan

Menurut keterangan beberapa tokoh yang tertangkap karena kasus narkoba, alasan kenapa mereka menggunakan barang terlarang tersebut karena tekanan pekerjaan. Mereka mengkonsumsi narkoba umumnya karena keletihan, kurang percaya diri dan sebagainya.

Pada dunia seni peran dan musik, biasanya memanfaatkan barang terlarang tersebut sebelum tampil di depan umum. Beberapa jenis memang dipercaya bisa meningkatkan percaya diri. Namun, ada pula obat terlarang yang difungsikan sebagai penenang. Sepinya tawaran kerja tak jarang membuat seseorang frustasi hingga akhirnya terjerumus di dunia narkoba.

  1. Narkoba sudah dianggap gaya hidup

 

Hal itu karena narkoba memang sudah dianggap sisi dari gaya hidup. Banyak di tokoh publik yang menganggapnya sebagai hal biasa.

Jika dulu, hanya orang-orang berpenampilan urakan yang biasa bersentuhan narkoba, namun saat ini begitu banyak orang yang terlihat rapi namun ternyata juga menggunakannya. Fatalnya, sebagai tokoh publik tentu memiliki banyak pengikut atau penggemar, dikhawatirkan mereka juga menganggap jika penggunaan narkoba adalah hal yang biasa.

  1. Memang diincar bandar narkoba

BNN sendiri telah mensinyalir bahwa bandar narkoba memang membidik para tokoh publik khususnya artis sebagai strategi marketing peredaran barang terlarang itu. Para pengedar memang melihat potensi pasar yang cukup menjanjikan di kalangan artis.

Selama ini, para pengedar melihat begitu banyak artis yang dinilai artis yang ‘membutuhkan’. Seperti dibahas sebelumnya bahwa narkoba tertentu memang dipercaya bisa meningkatkan rasa percaya diri. Hal tersebut yang dijadikan peluang bagi para pengedar untuk melancarkan bisnis mereka.

  1. Punya banyak uang

Memiliki banyak uang adalah salah satu alasan kenapa para seseorang menjadi incaran para pengedar narkoba.

Oleh sebab itu, para bandar narkoba menganggap jika menjual di kalangan atas akan menghasilkan keuntungan besar.

  1. Pergaulan bebas

Gaya hidup bergelimang kekayaan yang cenderung mengarahkan seseorang pada pergaulan tanpa batas. Tipe pergaulan seperti ini acap kali membawa seseorang sangat rentan terjerumus pada jeratan narkoba.

Mereka sadar bahwa barang tersebut akan mendatangkan mudarat bagi kehidupannya, tapi seringkali tawaran menggunakan akan sulit ditolak apabila datang dari lingkar pertemanannya.

Itulah lima alasan kenapa dunia tokoh publik begitu rentan dengan jerat narkoba. Beberapa kalangan khususnya artis dan pemusik seringkali mudah disusupi narkoba. Kendati demikian, bukan berarti terjun di dunia hiburan itu buruk, masih banyak artis dan pemusik yang mampu menjaga diri.

Penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), tidak pernah membawa dampak positif. Pasalnya, penggunanya jadi rentan terhadap banyak risiko, salah satunya HIV/AIDS--penyakit yang hingga kini, belum bisa disembuhkan.

Data yang dikeluarkan World Drug Report (2016) menyebutkan, setidaknya satu dari tujuh pengguna narkoba menderita penyakit HIV/AIDS. Kemungkinan seseorang terjangkit penyakit mematikan ini bahkan akan meningkat sebanyak tiga kali lipat, terlebih jika ia mengonsumsi kokain dengan cara menyuntikkannya ke dalam tubuh.

Sementara itu, penyebaran HIV/AIDS di kalangan pemadat termasuk cepat, lantaran didukung hubungan seksual berisiko (tidak menggunakan kondom/pengaman). Masalah lain muncul, sebab gairah seksual pengguna narkoba biasanya merupakan dampak dari narkoba itu sendiri. Adapun penggunaan narkoba jenis kokain, methamphetamine, dan inhalasia nitrit mendorong si pemakai untuk melakukan hubungan yang berisiko.

Tidak Berhenti

Risiko semakin bertambah, apabila perempuan yang berhubungan badan dengan pemakai hamil. Kendati tidak 100%, dapat dipastikan bayi yang ada di dalam kandungan memiliki risiko besar terjangkit virus HIV. Adapun risiko lain yang mungkin dialami, yakni tumbuh kembang yang tidak sempurna (cacat bawaan) atau justru terlepasnya plasenta sebelum melahirkan. Itu sebabnya, segera lakukan pemeriksaan menyeluruh pada ibu dan bayi, agar keduanya bisa melahirkan dalam kondisi sehat.

Selain HIV/AIDS, laporan yang sama juga merilis fakta mengejutkan, yakni sebanyak 50% pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik, pasti menderita penyakit Hepatitis C. Penyakit ini sulit dideteksi karena gejala yang ditunjukkannya termasuk ringan, seperti mual, pusing, kehilangan nafsu makan, cepat lelah, dan warna mata serta kulit berubah menjadi lebih kuning. Tanpa penanganan yang tepat, penderita Hepatitis C dapat mengalami kanker hati maupun sirosis. Jika sudah begini, transplantasi hati merupakan satu-satunya jalan keluar

Narkoba sudah seperti penyakit yang kian mewabah dan dapat menjangkiti siapa pun. Ia tak pandang bulu, miskin atau kaya, muda atau tua dapat menjadi korbannya. Terlebih, di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang banyak dan wilayah yang amat luas, negara ini telah menjadi pangsa pasar bagi peredaran narkoba. Hal ini tentunya meresahkan semua pihak, karena narkoba bukanlah barang yang dapat membawa kebaikan, melainkan keburukan di semua aspek.

Mengantisipasi peredaran barang haram ini tentunya bukan hanya tugas dari aparat yang berwenang saja, melainkan juga semua pihak. Masyarakat perlu tahu dan paham posisinya dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan ikut aktif dalam sosialisasi yang dilakukan di lingkungan-lingkungan, seperti sekolah dan kampus.

Mengapa kedua tempat ini penting?

Karena banyak usia pelajar dan mahasiswa yang dijadikan target dari pemasaran narkoba. Rasa ingin tahu mereka di usianya membawa mereka untuk mencoba segala hal, dan narkoba bisa sangat mungkin salah satunya. Maka tak mengherankan bila kampus sering dijadikan arena transaksi jual-beli narkoba. Seperti halnya terungkapnya penyalahgunaan narkoba di kampus Universitas Nasional (Unnas), Jakarta.

Dalam kasus ini, aparat menemukan 8,5 kilogram ganja, berpuluh-puluh senjata tajam, serta alat kontrasepsi. Hal ini tentunya ikut mencoreng nama institusi pendidikan dan telah meresahkan siapa pun. Bagaimana tidak, kampus yang seharusnya menjadi tempat mencetak generasi penerus bangsa telah berubah menjadi sarang kotor tempat jual-beli barang yang dapat membahayakan jiwa dan raga seseorang.

Pihak kampus tentunya lagi-lagi harus paham akan masalah ini. Jangan bersikap acuh dan percaya diri bahwa narkoba tak akan menghampiri institusinya. Peraturan yang telah ada dan ditujukan kepada mahasiswa, janganlah dijadikan hanya sebagai wacana semata, namun juga harus diterapkan. Pengawasan perlu dilakukan dengan baik. Pada hakikatnya, peredaran narkoba kini tak hanya di tempat-tempat hiburan malam, karena institusi pendidikan pun bisa saja tak luput dari bahayanya.

Pengedar narkoba akan datang dengan tangan terbuka dan senyum merekah bagi siapa pun yang mau membeli barang haram tersebut. Mereka akan memakai 1001 rayuan demi meyakinkan Anda untuk membeli narkoba. Namun, harus dipahami bahwa yang mereka lakukan adalah rayuan palsu.

Sebuah penelitian menunjukkan, alasan utama seseorang menggunakan narkoba adalah dorongan dari teman-temannya. Oleh sebab itu, pengedar narkoba selalu datang bak penolong atau teman baik yang perhatian dengan Anda. Namun, motif utama bukanlah untuk menolong, melainkan menjadikan Anda sebagai sapi perahan. Ya, sekali saja menggunakan narkoba, maka efek ketergantungan atau ketagihan akan membuat pemakai rela mengeluarkan uang berapa pun demi kenikmatan sesaat. Tidak berbeda seperti sapi perah.

Menurut Yayasan Dunia Bebas Narkoba, para pengedar memang menargetkan orang-orang yang sedang dalam kondisi terpuruk. Misalnya saja orang yang baru putus cinta, mereka yang baru dipecat dari pekerjaan, maupun orang yang sekadar ingin terlihat beken. Orang-orang seperti itulah merupakan mangsa empuk pengedar narkoba.

Salah satu rayuan para pengedar narkoba adalah, “Ayo pakai ekstasi karena barang ini akan membuat Anda populer dalam pertemanan.”

Padahal, patut dipahami, para pengedar merupakan hamba uang. Mereka tidak akan memikirkan nasib Anda, andai ketergantungan akan narkoba menghabiskan seluruh harta kekayaan. Begitu pula dengan kesehatan, para pengedar tidak ambil pusing bila ada kliennya yang meninggal akibat overdosis (OD).

Adapun salah satu cara untuk menangkis rayuan pengedar narkoba adalah memiliki pengetahuan yang cukup tentang obat-obatan terlarang ini. Kadang kala pengedar tidak akan secara gamblang mengatakan menjual narkoba, melainkan mengaku menjual vitamin. Pengetahuan ini penting untuk membentengi Anda dari bahaya narkoba.

“Sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Data tersebut didapat dari penelitian Puslitkes Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2016 lalu. – Dikutip dari republika.co.id

Salah satu ciri khas anak muda adalah “pencarian jati diri”. Kalau dulu kesempatan untuk mengeksplorasi potensi diri terbatas, kini kesempatan justru dibuka selebar-lebarnya. Apalagi didukung dengan semakin menjamurnya media sosial.

Sayangnya, media sosial yang mampu merekam segala aktivitas kita, seakan menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi kamu bisa mengeksplorasi potensi diri, sedang di sisi lain, bullying dan “nyinyiran” juga makin mudah terlontar. Orang-orang bisa dengan mudah mengkritik “pencitraan”, “B (re: biasa) aja”, atau “alay” lewat sosial media.

Alhasil, banyak di antara kaum muda yang justru tertekan karena merasa nggak diterima. Perasaan tersebut mendorong kaum muda untuk kemudian melakukan segala cara agar diterima. Sayangnya, jalan yang ditempuh nggak selalu baik. Banyak yang justru terjerumus di lembah hitam pergaulan bebas.

Alih-alih menekuni hobinya, free sex dan narkoba malah jadi “jalan keluar” agar ia diterima oleh pergaulan. Padahal, andai saja hobi yang dicap ‘alay’ dan ‘pasaran’ itu ditekuni, suatu saat bisa jadi jalan sukses, lho. Nggak percaya? Nih silahkan kamu baca sendiri.

  1. Hobi sharing Instastory jadi awal bakat akting? Bisa jadi!

Jangan berkecil hati kalau ada yang komentar “Alaaaah... begitu doang di”story-in, norak!”. Hobi update Instastory nggak lantas bikin kamu norak, hal ini bisa jadi satu modal potensial yang mungkin bisa kamu kembangkan. Siapa tahu nantinya kamu justru makin andal bikin vlog, hingga meraih mimpi di dunia seni peran!

  1. Suka “dandan” = ganjen? Make Up Artist ternama tenar justru karena hobi ini

Generasi pendahulu sering nyinyir “anak SMA kok sudah kaya tante-tante”. Nah, padahal hobi tersebut kalau ditekuni bisa jadi ladang uang. Sebut saja Vivi Thalib, Astrid Marcella, atau Vizzily, ketiga nama tersebut adalah sedikit dari deretan nama tenar MUA Indonesia yang berhasil meraih sukses berawal dari hobi “dandan”.

  1. Pilih kecanduan narkoba, atau kecanduan main game?

Ya, kalau sampai menjadi pecandu game sih sebenarnya enggak bagus juga. Mungkin lebih tepat kalau disebut “gamers sejati”. Gamers pasti sering diceramahi orang tua “Tiap hari kerjannya nge-game melulu, mau jadi apa kamu?, itu tandanya bukan kamu dilarang bermain game. Main boleh. Tapi jangan lupa kewajiban lainnya. Kendati demikian, kalau kamu mendalami hobi ini, bukan tidak mungkin suatu saat kamu bisa menjadi atlet e-gaming. Zaman sekarang gim sudah menjadi salah satu cabang olahraga profesional baik berskala nasional maupun internasional. Hadiahnya pun terbilang fantastis, nggak heran kini banyak orang yang kemudian menjadikan gim sebagai profesinya.

Nah itulah tiga kegiatan yang banyak diremehkan orang lain, namun justru dapat mendatangkan kesuksesan apabila diseriuskan. Jadi, nggak ada alasan lagi ya untuk mendekatkan diri pada pergaulan lewat narkoba.

Keluarga memiliki peran penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya anak. Melalui keluarga, seorang anak belajar mengenai nilai-nilai untuk pertama kalinya. Termasuk di dalamnya pemahaman berbagai macam hal, tidak terkecuali narkoba. Pendidikan dan sosialisasi mengenai bahayanya narkoba memang bukan hanya tugas dari aparat dan sekolah. Lingkungan rumah, dalam hal ini keluarga, memiliki posisi yang penting, bahkan strategis untuk membentuk karakter, sikap dan pemahaman seorang anak terhadap narkoba.

Orang tua tidak perlu segan dalam berkomunikasi dengan anak. Komunikasi memang menjadi hal yang sangat krusial, apalagi bila dihadapkan pada posisi sang anak yang tengah beranjak remaja. Rasa ingin tahu atau “coba-coba” dari anak-anak remaja sering meresahkan orang tua. Padahal, rasa resah saja tak cukup andaikan sang orang tua tidak tahu dan tidak mau untuk terjun langsung dalam memahami sang anak. Oleh karenanya, berkomunikasi dengan anak perlu dilakukan orang tua untuk memberikan pemahaman terhadap anaknya.

Berkomunikasi pun jangan diterapkan secara satu arah semata. Lakukanlah dengan dua arah. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Memasuki usia remaja, misalnya, dimana problematika hidup mulai dirasakan – di sini lah orang tua harus hadir dan siap memberikan solusi atas masalah yang dihadapi.

Hal semacam ini sebenarnya sudah menjadi bentuk pengawasan tersendiri bagi berkembangnya anak. Dengan menjadi teman bagi anak, orang tua tentunya dapat lebih mudah dengan memberikan pemahaman tentang narkoba. Diharapkan, orang tua tak hanya berbicara terkait melarang ini itu soal narkoba, melainkan dapat memiliki pemahaman lebih jauh tentang bahayanya mengonsumsi barang haram ini.  Sehingga, kesadaran anak pun diharapkan dapat terbentuk untuk tidak sekali pun menyentuh narkoba, apalagi mencicipinya.

Daun kering dari tanaman Indian hemp itu biasanya dipadatkan, kemudian dibakar, lantas asapnya diisap hingga mengisi rongga paru-paru. Sekali isap, dapat membawa efek relaksasi hingga halusinasi. Itulah mariyuana atau narkoba yang lebih dikenal dengan sebutan ganja.

Beberapa kalangan masyarakat mendorong agar dilakukan legalisasi mariyuana. Hal ini terjadi di dunia internasional dan  di Indonesia. Dalam batas tertentu, mariyuana memang dapat dipakai untuk pengobatan. Namun, usaha untuk melegalkan mariyuana dilakukan demi menggunakan obat tersebut dengan cara yang salah.

Efek menggunakan mariyuana akan langsung terasa pada 30 menit pertama. Sayangnya, efek itu baru akan hilang dari tubuh setelah dua atau tiga jam berhenti mengonsumsinya. Para penikmat tumbuhan ini menilai, tidak ada dampak negatif yang ditimbulkan karena merasa hanya akan memberikan rasa relaks saja.

Beberapa macam penyakit berbahaya dapat menyerang pemakai mariyuana, antara lain alzheimer, skizofrenia, gagal jantung, hingga risiko osteoporosis yang semakin tinggi. Bahkan, di beberapa kasus ditemukan volume otak pemakai mariyuana ini lebih kecil dibanding orang yang tidak mengonsumsinya. Sementara, pengguna mariyuana dari kalangan anak muda menderita efek rendahnya kemampuan berpikir.

Menurut laman Narconon.org, narkoba jenis ini populer di kalangan anak muda atau remaja. Para orang tua pun diminta waspada dan memberikan perhatian lebih supaya anak mereka tidak menggunakan mariyuana. Salah satu cara mudah mendeteksi adalah dengan mengenali beragam nama lain dari mariyuana. Beberapa nama yang populer beredar, di antaranya cimeng, gelek, pocong, mary jane, pot, weed, grass, hemp, dan astro turf.

Bagi para orang tua yang mendengar buah hatinya mengucap nama-nama alias mariyuana di atas, sebaiknya segera bertanya dengan detail. Jangan takut untuk menegur anak Anda, sebelum mereka menjadi korban mariyuana.

Penyalahgunaan narkoba mengandung zat psikoaktif yang mampu memengaruhi secara negatif sistem kendali tubuh. Daya ingat yang terus menurun merupakan dampak paling ringan yang diderita oleh pemakai narkoba. Bahkan, seseorang bisa saja lupa dengan hal-hal sederhana yang biasanya mudah diingat.

Kondisi yang demikian berdampak pula pada kondisi kejiwaan si pemakai. Ada perasaan sebagai seseorang yang gagal, dan itu terus menghantui. Pikiran yang rusak oleh narkoba pun akan berdampak pada kehidupan sehari-hari dan tidak ada manfaatnya. Survei yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyimpulkan, satu dari empat anak muda akan tinggal kelas bila menjadi pemakai narkoba. Selain itu, pengguna narkoba sulit untuk mencetak prestasi karena mereka memilih untuk berada di kondisi high. Sementara, ketika mereka mencoba untuk meraih kesuksesan, kegagalan demi kegagalan pun datang silih berganti.

Kegagalan itu pun semakin menguatkan alasan agar mereka terus terlena dengan narkoba. Bagi mereka, narkoba adalah jalan keluar dari tiap masalah dan rasa nikmat palsu sesaat, termasuk pencapaian dalam diri. Dengan kata lain, pemakaian narkoba malah semakin menjerumuskan ke dalam lubang kesengsaraan.

Imbas negatif lainnya yang dihasilkan narkoba adalah hancurnya masa depan. Sulit dibayangkan seseorang akan mendapat pekerjaan atau mampu bekerja dengan baik, bila ia memiliki masalah kejiwaan dan tidak punya percaya diri sama sekali. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya menjauhkan hubungan kita dari Tuhan Yang Maha Esa, melainkan juga dengan hubungan sosial lainnya seperti keluarga.

Bagi Anda yang sudah terlanjur jatuh dalam jerat narkoba dan punya keinginan untuk berhenti, jangan ragu. Segera hubungi keluarga atau kerabat dekat yang bisa Anda percaya. Biarkan mereka membantu. Kemudian, ikutlah program rehabilitasi dari BNN.

Indonesia sebagai bangsa besar dan dihuni ratusan juta manusia tidak bisa lepas dari kenyataan pahit tentang budaya narkoba. Laporan yang dibuat oleh tim Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, ada lima juta orang pengguna narkoba yang terdeteksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, setiap harinya diperkirakan ada 50 orang yang meninggal akibat narkoba. Lantas, bagaimana awal mula narkoba bisa masuk ke Indonesia?

Narkoba rupanya telah masuk jauh sebelum Indonesia berdiri dan merdeka. Hal ini pun erat kaitannya ketika Bumi Pertiwi  masih dijajah oleh Belanda terutama di era VOC. Indonesia yang kala itu masih disebut pemerintahan Hindia Belanda turut andil dari perdagangan opium. Setidaknya 164 ton opium mentah diperdagangkan pada 1877. Tak hanya menjual produknya, 850 rumah candu legal di Pulau Jawa pun dipersiapkan untuk menarik pengunjung. Pemasukan dari narkoba saat itu digunakan untuk modal perang.

Budaya narkoba pun kian mengakar sejak saat itu, meski negara ini hidup berlandaskan dengan Pancasila dan agamais. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Jokowi pun terus menyatakan perang terhadap narkoba. Sejumlah langkah telah diambil guna menurunkan angka pemakai narkoba, antara lain menerapkan hukuman mati pengedar narkoba dan tidak memberikan hukuman bagi pemadat yang mau ikut program rehabilitasi BNN.

Langkah-langkah yang dilakukan pun mulai menunjukkan hasil nyata. Berdasarkan survei BNN, sebanyak 8,6 persen anak muda di Indonesia terutama dari wilayah perkotaan mengonsumsi narkoba pada 2006. Setelah satu dekade berlalu, angka tersebut turun menjadi 3,8 persen.

Selain itu, sebuah fakta mengejutkan adalah semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula potensi seseorang menggunakan narkoba. Mahasiswa menempati peringkat pertama dengan total 54 persen pada 2016 sebagai pihak paling rentan mengkonsumsi narkoba. Oleh karena itu, perlunya langkah khusus bagi mereka agar tidak terjerumus dalam jerat barang haram itu. Kesadaran bahwa mereka penerus bangsa perlu ditekankan

Page 1 of 2
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…