anto

anto

Page 1 of 24

Jakarta, Cegahnarkoba.bnn.go.id - Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Jakarta Utara menggelar acara Forum Komunikasi Anti Narkoba Berbasis Media Online, di Jakarta. kamis 05/07/2018, Hal ini karena Kejahatan narkotika di media online semakin sering terjadi. Dan tidak jarang media online dimanfaatkan oleh sindikat untuk memasarkan narkotika.

Kepala BNNK Jakarta Utara AKBP  Yuanita Amelia Sari mengatakan pentingnya melibatkan para Netizen dalam upaya perang melawan penyalahgunaan narkoba.

Menurut  Yuanita, BNNK Jakarta Utara sengaja memilih para netizen untuk menjadi perpanjangan tangan atau mitra BNNK dalam penyampaikan informasi pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba kepada masyarakat. Dia meminta para netizen untuk lebih aktif sebagai pelopor gerakan pencegahan, penyebaran informasi dan menjaga diri dari bahaya penyalahgunaan narkoba dengan cara penyebarkan informasi melalui blog, media sosial dan website. Terlihat 30 peserta hadir pada kegiatan itu yang berasal dari Pelajar dan Pekerja.   

Sementara itu narasumber lain, Kasie Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M), Fika Dewi Rahmawati kembali menegaskan  untuk bersama mencegah bahaya narkoba melalui sarana media online untuk lebih intens mengedukasi masyarakat agar lebih aware terhadap permasalahan narkoba. Media yang efektif untuk menyebarkan informasi bahaya narkoba adalah media online tutup Fika. (edit oscar)

#HANI2018 #ListenFirst #WorldDrugDay #stopnarkoba #cegahnarkoba

Jakarta, Cegahnarkoba.bnn.go.id - Ada yang menarik dari nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2018 di RW/08 Penjaringan, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat 06/07/2018. Sebelum menyaksikan pertandingan perempat final yang mempertemukan France dan Uruguay masyarakat terlebih dahulu menggelar sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba.

Hadir sebagai narasumber Direktur Diseminasi Informasi, Deputi Bidang Pencegahan BNN Brigjen Pol. Drs Antoni Hutabarat dan anggota Komisi 7 DPR RI dari fraksi partai Golkar Ivan Doli Gultom.

Wakil ketua RW 08, Lahudin mengatakan moment piala dunia sengaja dimanfaatkan untuk menyampaikan bahaya penyalahgunaan narkoba kepada warga untuk menjaga lingkungan dan keluarganya dari penyalahgunaan narkoba. Menurut Lahudin banyak warga RW/8 Penjaringan khususnya remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Hal tersebut yang menjadi dasar pengurus RW mengundang BNN untuk hadir dan menyampaikan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba ujarnya.

Direktur Diseminasi Informasi BNN, Antoni Hutabarat saat menyampaikan sambutan mengatakan saat ini Indonesia menjadi pangsa pasar yang cukup besar mengingat ada 5 juta pengguna narkoba. Oleh karena itu kita harus bersama-sama bersama-sama melawan penyalahgunaan narkoba ajak Antoni Hutabarat.

Lebih lanjut Antoni Hutabarat menjelaskan, bonus demografi yang akan datang harus sikapi dengan cara mempersiapkan generasi muda Indonesia yang sehat dan berprestasi. Tugas orang tua adalah melindungi mereka dari penyalahgunaan narkoba tutupnya.

Sementara itu, Ivan Doli Gultom angota DPR RI yang saat itu bersama-sama masyarakat menyaksikan nobar Piala Dunia memberikan apresiasi kepada BNN yang datang menyampaikan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba kepada masyarakat.

“Ini kesempatan yang baik dimana masyarakat berkumpul menyaksikan pertandingan Piala Dunia. Semua kalangan ada disini. Ada remaja dan dewasa. Mereka bisa mendengarkan langsung bahaya narkoba dari sumber yang memahami permasalahan narkoba. Jadi menurut saya ini kegiatan yang kreatif dari teman-teman BNN” ujarnya.

Ivan Doli Gultom berharap kegiatan Pencegahan penyalahgunaan narkoba terus dilaksanakan oleh BNN agar generasi muda Indonesia bebas dari penyalahgunaan narkoba. (Oscar)

#HANI2018 #ListenFirst #WorldDrugDay #stopnarkoba #cegahnarkoba

Bireuen, Indonesiabergegas - Satuan Tugas (Satgas) Anti Penyalahgunaan Narkoba Kabupaten Bireuen melakukan kegiatan Satuan Kampanye Kreatif Anti Narkoba di tempat wisata Pantai Jangka, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen Kamis, 15/09/2016.

Dalam momentum liburan Hari Raya Idul Adha, Satgas Anti Penyalahgunaan Narkoba yang berasal dari SMA, MA, SMK dan Mahasiswa Universitas se-Kabupaten Bireuen ini menginisiasi kegiatan silaturahmi “Temu Akrab” antar Satgas Anti Penyalahgunaan Narkoba Se-Kabupaten Bireuen.

Dalam kegiatan tersebut Satgas Anti Penyalahgunaan Narkoba juga melakukan "education Street on the - Stop Narkoba" dengan membagikan stiker dan Flyer stop narkoba yang berisikan tentang informasi bahaya narkoba kepada pengunjung tempat wisata pantai jangka.

Iskandar (54), Salah satu masyarakat yang sedang berlibur bersama keluarganya sempat kami mintakan testimoninya. Dia mengatakan kegiatan ini sangat positif, sambil refreshing mengajak anak dan istri ke tempat wisata, ternyata kami juga mendapatkan ilmu tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Informasi ini sangat berguna untuk Saya dan Keluarga, utamanya anak-anak ujar Iskandar.

Selain itu juga Satgas Anti Penyalahgunaan Narkoba dengan didampingi Tim Penyuluh Narkoba melakukan penempelan stiker stop narkoba di beberapa titik sebagai bentuk kampanye kreatif anti Penyalahgunaan narkoba dalam rangka memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba.

Sementara itu Tim Penyuluh Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bireuen yang  turut hadir pada acara itu mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu aksi nyata yang dilakukan oleh Satgas Anti Penyalahgunaan Narkoba sebagai bentuk komitmen bersama dalam rangka melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di wilayah Kabupaten Bireuen, mengingat Indonesia saat ini sudah berada dalam kondisi Darurat Narkoba. (edit osc)

#stopnarkoba

Sumber: BNNK Bireuen

                

Oleh : Sumaryanto

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno.

Kutipan kata-kata Bung Karno Sang Proklamator seolah menjadikan “cemeti” bagi kita generasi penerus bangsa bahwa perjuangan tak akan pernah berakhir, perjuangan yang terbesar ialah mempertahankan negeri ini, bebas dari “penjajahan jenis baru” yang tanpa sadar telah merenggut kebebasan kita berekspresi, berkarya, berprestasi.

Sebut saja narkoba, pornografi, korupsi dan maksiat lainnya, yang tak hanya membuat Sang Pencipta murka, namun telah pula menjangkiti “pejuang-pejuang masa kini”, menggerogoti tiada henti, namun mirisnya, musuh terbesar ini seakan menjadi “selimut” bagi kita, tak sadar pengaruh negatif yang sangat besar, kita seolah nyaris terbiasa oleh kemaksiatan itu. Tak berlebihan jika penulis mengatakan negeri ini sedang “sakit namun merasa sehat”. Inilah penjajah gaya baru yang tak jelas batang hidungnya, namun dampaknya sungguh terasa bagi orang-orang berakal sehat.

Rasulullah Muhammad s.a.w bersabda “Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (Riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a).

Penulis sedang mengingatkan diri sendiri, jika saja setiap ada kemaksiatan apapun dapat kita cegah, baik dengan kekuasaan kita, atau tulisan kita, ataupun jika memang sangat tidak memungkinkan untuk berbuat apa-apa, tinggalkanlah dan ingkari dalam hati bahwa apapun bentuk kemaksiatan, narkoba, pornografi, korupsi itu salah dan dilarang oleh agama manapun di muka bumi ini. Karena ini adalah bentuk perjuangan masa kini, perjuangan tiada henti yang telah diwariskan para pejuang pendahulu kita.

Seperti para penjajah, awalnya mereka hanya berdagang dengan penduduk pribumi, namun lama-kelamaan, mereka memonopoli perdagangan, sebelum akhirnya menjajah dengan liciknya. Demikian pula dengan narkoba, awalnya pengedar memberikan dengan cuma-cuma, namun setelah ketergantungan, mereka akan menjualnya dengan harga yang tinggi, dan selanjutnya memaksa kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, hingga akhirnya narkoba telah menjangkit dalam tubuh kita, merusak organ dalam kita, menjajah otak kita, entah mati muda, atau menjalani sisa hidup dengan menderita.

Tidak berlebihan rasanya, jika generasi penerus memegang teguh pesan-pesan para pahlawannya, jika seorang umat beragama mengikuti ajaran kitab sucinya, dan jika seorang pelajar memberikan prestasi untuk kedua orang tuanya.

Tidak berlebihan jika semangat perjuangan yang telah digelorakan para pahlawan di medan laga, jiwa raga, harta benda, semua yang berharga telah dikorbankan demi merdeka dari penjajah, kita lanjutkan dengan PERANG MELAWAN NARKOBA DAN SEGALA BENTUK PENJAJAHAN JENIS BARU LAINNYA.

Merdeka dari Narkoba, atau Mati dalam cita-cita.
Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71.

#stopnarkoba.


Penulis adalah staff Media Penyiaran BNN

Oleh : Gun Gun Siswadi*)

 

Indonesia secara geografis merupakan sebuah negara kepulauan dengan dua pertiga luas lautan lebih besar dibanding luas daratan. Berdasarkan data TNI AL, panjang garis pantai Indonesia kurang lebih 85.000 Km. Sehingga Indonesia menjadi negara dengan urutan kedua di dunia yang memiliki garis pantai terpanjang setelah Kanada. Inilah potensi dan kekuatan Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Laut merupakan mata pencaharian sekaligus urat nadi transportasi yang akan menghubungkan pulau-pulau di Indonesia yang berjumlah 17.000 lebih, sekaligus sebagai sarana transportasi bagi masyarakat internasional dalam rangka pertukaran barang dan jasa. Oleh karena itu, laut perlu dijaga dan dikembangkan serta dilestarikan agar mampu memberikan kesejahteraan sebesar besarnya bagi bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Namun demikian, sangat ironis bagi kita, ternyata laut pun dijadikan sebagai jalur untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Berdasarkan data BNN, ternyata penyelundupan narkoba melalui jalur laut adalah  80%, sedangkan 20% lainnya melalui jalur darat dan udara. Inilah permasalah utama yang dihadapi Indonesia.

Seperti kita ketahui bersama, saat ini Indonesia dalam situasi dan kondisi “darurat naroba”. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang disampaikan Presiden RI pada saat membuka Rakor Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) pada Akhir Pebruari 2015 di Jakarta.

Indonesia Darurat Narkoba, dengan indikator antara lain yaitu jumlah penyahguna mencapai 4 juta orang  atau 2,18% dari jumlah penduduk Indonesia yang berusia 10 s/d 59 tahun (usia produktif); jumlah dan jenis narkoba yang masuk ke Indonesia terus berkembang; modus operandi penyelundupan narkoba yang semakin canggih; Indonesia menjadi negara tujuan peredaran gelap narkoba dan korban penyalahgunaan narkoba sudah menyasar ke berbagai level profesi maupun pendidikan, terutama generasi muda.

Oleh karena itu, perlu melakukan langkah langkah dalam mengantisipasi hal tersebut, antara lain dengan meningkatkan patroli bersama antara TNI AL, POLRI, BNN dan BAKAMLA; meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba; memberikan efek jera terhadap penyelundup narkoba dengan menenggelamkan kapalnya dan menghukum seberat-beratnya. Dengan demikian, maka perlu menyusun regulasi terkait dengan dasar hukum sebagai payung dalam upaya ini serta bagaimana melakukan pemahaman kepada semua stakeholder terkait dengan permasalah narkoba sebagai permasalahn bersama.

Pengalaman dilapangan menunjukan, ternyata pembangunan kemaritiman belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat masih berorientasi pada pembangunan yang dikembangkan oleh orde baru yang bertumpu pada sektor pertanian. Oleh karena itu, perlu membangun kesadaran masyarakat untuk berorientasi pada pembangunan kemaritiman seperti yang disampaikan oleh Bung Karno pada tahun 1963 saat berbicara dalam pembukaan National Maritime Convention (MNC), yaitu “Untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai yang merupakan national building bagi negara Indonesia, maka maka negara harus dapat menguasai lautan”.

Oleh karena itu, sejalan dengan hal tersebut, maka rekomendasi yang dapat disampaikan terkait dengan Pembangunan Kemaritiman dalan rangka mewujudkan Indonesia bebas, antara lain meliputi sosialisasi tentang paradigma pembangunan kemaritiman dikaitkan dengan bagaimana meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba, penetapan regulasi terkait dengan penegakan hukum permasalahan narkoba di sektor kemaritiman, pembangunan infrastrukur  sektor kemaritiman sebagai jembatan penghubung berbagai pulau di Indonesia serta penguatan kapasitas SDM dalam rangka pembangunan kemaritiman untuk mewujudkan Indonesia bebas narkoba. Semoga ......

#stopnarkoba

 

*)Penulis adalah Direktur Diseminasi Informasi BNN

Oleh : Oscar Umbu Siwa

Tertangkapnya Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan AKP Ichwan Lubis menegaskan kepada kita bahwa penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan. Semua lini sudah terkontaminasi dengan barang haram bernama narkoba. Bisnis haram yang menghasilkan jumlah uang yang besar itu mudah mempengaruhi oknum penegak hukum dengan imiing-iming materi.

Pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia memerlukan upaya sinergis yang komprehensif multidimensional, sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Butuh keseriusan dan komitmen bersama untuk melakukan pencegahan agar bisa menekan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba yang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Berdasarkan data perkiraan 2010, angka prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 2,21 % atau setara dengan 3,8 juta jiwa. Yang kemudian pada bulan Juni tahun 2015 bertambah menjadi 4,2 juta jiwa dan berselang lima bulan kemudian angka tersebut berubah signifikan menjadi 5,9 juta jiwa. 

Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba bukan hanya menjadi tugas pemerintah dalam hal ini BNN, tetapi merupakan tugas semua elemen bangsa untuk membebaskan Indonesia dari jeratan penyalahgunaan narkoba.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan prevalensi adalah melakukan tes urine secara berkala di instansi pemerintah maupun swasta, hal ini untuk mendeteksi sejak dini penyalahgunaan narkoba di lingkungan masing-masing. Kalangan pekerja harus menjadi sasaran pencegahan sebab sektor ini menjadi penyumbang terbesar penyalahguna narkoba yaitu sebesar 50,34 persen atau setara dengan 2,5 juta orang .

Meski demikian, data statistik itu belum dapat menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Data itu hanyalah kasus yang bisa ditemukan lalu tercatat oleh BNN. Potret data tersebut dipastikan hanya fenomena gunung es, yang artinya dalam kenyataan boleh jadi lebih dramatis.

Mengapa pekerja?

Penyalahgunaan narkoba di kalangan pekerja menempati urutan tertinggi disebabkan karena beberapa faktor, antara lain, kemampuan finansial, adanya tekanan pekerjaan, doping untuk meningkatkan stamina kerja, maupun sejak awal atau sebelum bekerja, telah menjadi penyalahguna narkoba.

Bahkan ada mitos bagi kalangan pekerja (terutama pekerja tambang) bahwa mengkonsumsi narkoba dapat meningkatkan stamina dan produktivitas. Stigma ini yang perlu untuk diluruskan agar pekerja memiliki informasi yang benar tentang bahaya serta dampak penyalahgunaan narkoba baik bagi diri sendiri maupun bagi perusahaan tempat bekerja.

Tempat kerja perlu melakukan kegiatan pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Perlu disadari bahwa pencegahan itu is good business.  Kalau pekerja sehat dan bebas dari Narkoba maka produktivitas kerjaakan meningkat, keselamatandan keamanan pekerja membaik, motivasi meningkat; dan corporate image meningkat. (Paulina Padmohoedojo, Tim Asistensi BNN)

Tes urine secara berkala bagi pekerja tentu saja memiliki manfaat yaitu melindungi pekerja dan keluarganya dari penyalahgunaan narkoba. Pekerja adalah aset penting yang harus dilindungi.

Sementara itu bagi pelajar dan mahasiswa tes urine perlu dilakukan untuk melindingi generasi muda dari penyalahgunaan narkoba. Dampak penyalahgunaan narkoba yang merusak susunan sistem saraf dipercaya akan menurunkan daya saing generasi muda dalam mengejar cita-cita dan impiannya.

Pertama, sekolah dengan predikat bebas narkoba memiliki dampak positif yaitu meningkatkan kepercayaan orang tua terhadap sekolah yang bersangkutan. Kedua, pelajar pengguna narkoba memiliki sikap yang agresif dan tidak jarang mencederai rekan-rekannya bahkan dirinya sendiri. Dengan melakukan tes urine secara berkala, pelajar akan memiliki sikap waspada agar tidak terlibat dalam gaya hidup tidak sehat tersebut. Selain itu, sekolah dapat mengidentifikasi sejak siswa-siswi pengguna narkoba. Ketiga, dengan mengetahui siswa-siswa pengguna narkoba, sekolah dapat melakukan upaya pembingan dan upaya medis untuk menyelamatkan siswa-siswi pengguna narkoba. keempat, sisi positf tes urine adalah dapat meningkatkan prestasi akademik.

Dan yang jauh lebih penting dari itu adalah tercipta lingkungan pekerjaan dan sekolah yang bebas dari narkoba sehingga menunjang kreativitas, peningkatan kinerja dan terwujudnya indonesia yang bebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

#stopnarkoba

 

Page 1 of 24
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…