yono

yono

Page 1 of 12

Menjadi bagian dari suatu instansi atau perusahaan mengharuskan kita beradaptasi dengan lingkungan kerja dimana kita berada.  Menurut Sedarmayanti (2001:12) kondisi lingkungan kerja bisa disebut baik atau sesuai jika manusia bisa menjalankan aktivitas dengan optimal, sehat, aman dan nyaman. Lingkungan kerja menjadi faktor penting dalam mendukung segala kegiatan di dalamnya.

Umumnya, seseorang menghabiskan waktu 8 jam per hari untuk bekerja, sehingga sangatlah penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Kondisi tersebut dapat tercipta apabila tiap individunya mampu berkoordinasi dengan baik untuk sama-sama membangun keadaan yang nyaman dan tidak mengganggu kolega lain dalam bekerja.

Tak jarang, terdapat beberapa pekerja yang terperangkap dalam dunia penyalahgunaan narkotika. Faktor lingkungan kerja yang buruk, ketidakmampuan individu untuk menolak ajakan kawan yang menawarkan narkotika, tekanan dari atasan, banyaknya pekerjaan yang belum terselesaikan dianggap sebagai penyebab pekerja menggunakan narkotika. Padahal, penggunaan barang haram tersebut tidaklah menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Justru menambah masalah yang membahayakan diri.

Perlu diingat, kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang baik datang dari kerja sama tiap-tiap pegawai. Ruang kerja yang layak, tingkat kebisingan yang rendah, menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat ibadah dan dapur serta atasan yang mampu mengapresiasi pegawainya, merupakan beberapa indikator yang berpengaruh untuk kinerja pegawai.

Cerdas bekerja dimulai dari lingkungan kerja yang aman, nyaman dan bersih dari narkoba!. (Asri)

#cegahnarkoba #stopnarkoba

Perkembangan penyalahguna narkoba semakin marak dikalangan masyarakat terutama pada lingkungan keluarga, pendidikan dan pekerja. Peredaran gelap narkoba yang semakin tinggi ditengarai karena kurangnya pengawasan terhadap intensitas keluar masuknya barang pada jalur penghubung, terutama pada pelabuhan. Oleh karena itu perlu melibatkan pihak terkait dalam upaya pencegahan dan pemberantasannya. Indonesia yang merupakan negara maritim dengan garis pantai yang panjang menjadi pangsa pasar yang menggiurkan bagi sindikat narkotika internasional.

Berkaitan dengan masalah tersebut, BNN (Badan Narkotika Nasional) bersinergi dan menyatukan kekuatan bersama PT ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) Indonesia Ferry dalam upaya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran gelap narkoba di Indonesia yang dilakukan di kantor pusat PT. ASDP  Indonesia Ferry, Cempaka Putih Jakarta pusat, pada jumat ( 10/8). Kegiatan penandatangan perjanjian kerja sama ini dihadiri oleh kepala BNN Komjen Pol Drs. Heru Winarko, serta Deputi Pencegahan Irjen Pol. Drs. Ali Djohardi.

Mengingat jalur laut adalah jalur yang paling sering dipakai oleh para Bandar narkoba untuk menyeludupkan barang haram tersebut, maka BNN dan PT ASDP sepakat untuk  mencegah peredaran gelap narkoba terutama yang masuk memalui laut. Kedua belah pihak sepakat untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pertukaran data dan informasi terkait upaya penanganan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Kepala BNN Heru Winarko berharap agar PT. ASDP Indonesia Ferry dapat lebih memperketat ruang gerak kejahatan narkotika diperairan Indonesia. Karena menurut beliau salah satu jalur di menjadi primadona sindikat internasional dalam menyelundupkan narkoba adalah melalui laut. Oleh karena itu lanjut Heru Winarko PT. ASDP memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. 

Sementara itu, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspa Dewi, berharap agar kerjasama ini dapat menjadi momentum bagi PT ASDP untuk menjadi keluarga besar yang eligible dan kondusif dari penyalahguna dan peredaran gelap narkoba.

Komitmen dari PT ASDP dalam upaya pencegahan dengan memberdayakan sumber daya yang ada. Pihaknya akan memperketat jalur keluar masuknya narkoba ke wilayah Indonesia sehingga mempersempit ruang gerak sindikat narkotika yang ingin menyelundupkan narkoba ke Indonesia.  (Ghina)

#cegahnarkoba #stopnarkoba

Mengetahui bahwa seorang wanita sedang mengandung buah hati tercinta adalah hal yang sangat membahagiakan. Apalagi jika kehadiran seorang anak sudah lama dinantikan. Semua calon ibu akan sangat menjaga janin dalam kandungannya dan memperhatikan tiap asupan makanan yang ia konsumsi. Namun, bagaimana jadinya jika ibu tersebut adalah seorang pecandu narkoba?

Saat seorang wanita sedang mengandung, apapun yang dikonsumsinya juga turut dikonsumsi si janin melalui aliran darah ke plasenta. Oleh sebab itu, narkoba yang dikonsumsi oleh ibu hamil tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, namun juga memiliki efek buruk bagi si buah hati. Bahkan efek buruk penyalahgunaan narkoba oleh ibu hamil  ini juga akan dirasakan hingga si kecil tumbuh dewasa. Lalu apa sajakah dampaknya?

Saat masa kehamilan, janin sangat rentan keguguran hingga berakibat janin mati dalam kandungan. Kelainan atau cacat fisik juga dapat terjadi apabila bayi telah lahir. Jika ibu mengonsumsi narkoba dengan cara diminum, bayi juga ikut mengonsumsinya melalui ASI. Dampaknya, pertumbuhan dan daya tahan tubuh si bayi sangat lemah, ia rentan terkena penyakit. Sementara, apabila si ibu menggunakan jarum suntik sebagai media untuk pemakaian narkoba, bayi akan mudah tertular HIV dan Hepatitis C. Saat tumbuh dewasa, si anak cenderung mudah gelisah, tidak dapat berkonsenterasi dengan baik, tidak dapat mengontrol emosi dan masalah lainnya.

Penting untuk diketahui, bahwa seorang wanita yang sedang hamil kondisi fisiknya lebih rentan dibanding wanita normal. Para dokter kandungan menganjurkan agar wanita hamil banyak mengonsumsi sayur, buah-buahan segar dan susu. Tidaklah dianjurkan untuk minum obat-obatan secara berlebihan, apalagi narkoba. Sebab efek buruk bukan hanya dirasakan oleh sang ibu tetapi juga bayi dalam kandungannya hingga si bayi tumbuh dewasa.

Asri Gartika

Jakarta - Cegahnarkoba, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama (BERSAMA) mengunjungi Social Media Center (SMC) di Badan Narkotika Nasional (BNN), lantai 3 Rabu (4/7/2018). Kunjungan tersebut dalam rangka menjalin kerjasama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

LSM BERSAMA memiliki Visi yaitu terwujudnya masyarakat dan bangsa Indonesia yang sejahtera, maju berprestasi tinggi dan bersih dari narkoba.

Saat melakukan kunjungan, Ketua LSM BERSAMA Putera Astama didampingi oleh Kepala BNN Heru Winarko dan Deputi Pencegahan BNN, Ali Johardi. Pada kesempatan itu Putera Astama mengapresiasi teknologi (SMC) yang dimiliki oleh BNN khususnya dalam diseminasi informasi bahaya penyalahgunaan narkoba kepada masyarakat.

Selain itu, Putera Astaman mengajak seluruh komponen bangsa untuk melawan penyalahgunaan narkoba.

“Saya mengajak semua warga bangsa untuk perang melawan narkoba. Narkoba dapat menurunkan kualitas bangsa dan Indonesia akan menjadi bangsa yang tertinggal” ujarnya

Khusus kepada generasi muda Putera Astama berpesan agar tidak kompromi dengan narkoba. Sekali mencoba narkoba maka selamanya akan terjerumus dalam kepahitan hidup tandasnya.

Diakhir kunjungan, LSM BERSAMA melakukan sesi foto bersama melalui aplikasi mesin selfie yang disiapkan oleh seksi media online dan memberikan pernyataan melalui Radio Cegah Narkoba Streaming Radio (CNS).

(Oscar)

#HANI2018 #ListenFirst #WorldDrugDay #stopnarkoba #cegahnarkoba

Jakarta, Cegahnarkoba – Kejahatan narkoba dan korupsi merupakan dua kejatahan luar biasa dan merupakan kejahatan yang membutuhkan penanganan ekstra. Buka hanya pada wilayah penegakan hukum tetapi juga pada konteks edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba maupun bahaya tindak pidana korupsi.

BNN dan KPK yang dalam hal ini merupakan Vocal Point permasalahan narkoba dan koruspi di Indonesia sudah seharusnya memiliki kepentingan bersama dalam menyelamatkan anak bangsa dari ancaman dua kejahatan tersebut. Pada konteks pencegahan, edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara masif. Kedua kejahatan ini melibatkan mental dari penyalahguna maupun pelaku tindak pidana nya. Pemahaman yang benar akan bahaya penyalahgunaan narkoba di masyarakat menjadi poin penting keberhasilan pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba. Demikian pula kesadaran akan bahaya tindak pidana korupsi juga merupakan poin penting yang tidak bisa kita lupakan. Berangkat dari kondisi tersebut, maka kersama yang kuat antar dua lembaga tersebut menjadi sangat penting.

Sebagai langkah nyata, BNN melalui Direktorat Advokasi, Deputi Bidang Pencegahan BNN melakukan langkah sinergitas bersama KPK dan melakukan pembahasan terkait langkah nyata yang dapat dilakukan oleh masing-masing pihak.

Dilaksanakan pada Senin, 4 Juni 2018 bertempat di gedung KPK, Kuningan Jakarta, Tim BNN menjelaskan beberapa hal antara lain terkait konten serta media pencegahan yang selama ini telah dimiliki BNN untuk dapat disinergikan dengan media serta konten yang selama ini dimiliki oleh KPK. “konten tersebut nantinya  akan dimasukan kedalam materi penyuluhan bahaya narkoba dan korupsi”, Ujar Dea Rhinofa, Kasi Instansi Pemerintah, Deputi Bidang Pencegahan BNN.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa BNN sampai saat ini telah mengoptimalkan penggunaan berbagai media sebagai sarana edukasi, salah satunya dengan metode story telling, serta game edukasi di playstore serta media ios maupun melalui media streaming.

Pada kesempatan terpisah, Koordinator Pendidikan Masyarakat KPK, Ariz Dedy Arham menyampaikan bahwa bahaya narkoba dan korupsi merupakan kejahatan yang terorganisasi, hal ini di atur dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi PBB Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi, di Kantor Badan Pengembangan Pemberdayaan SDM Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin 25 Juni 2018. Dalam kesempatan tersebut, kedua perwakilan lembaga (KPK dan BNN) berharap melalui peningkatan kapasitas SDM yang dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Pengembangan SDM Kesehatan bagi aparatur Sipil Negara (ASN) diharapkan mempunyai integritas yang tinggi dalam mencegah bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba serta korupsi. (Yul).

#HANI2018 #ListenFirst #WorldDrugDay #stopnarkoba #cegahnarkoba

World Drug Report 2018 (WDR 2018) adalah rujukan update kondisi dan situasi terkini dari anggota PBB yang dihimpun dari laporan ARQ (Annual Report Questionairre) semester dan tahunan ditiap negara termasuk BNN.

Data dalam laporan ini memotret kondisi tahun lalu yang bisa dijadikan estimasi untuk kebijakan P4GN di setiap negara. Naik dan turunnya kondisi penyalahgunaan narkotika akan mengubah kebijakan dan strategi suatu negara untuk menghadapinya.

Laporan UNODC yang di sampaikan oleh Collie P. Brown Country manager (UNODC Indonesia). Terjadi peningkatan pengguna narkoba khususnya bagi anak muda. Disampaikan oleh UNODC bahwa 4 (empat)dari 10 (sepuluh) anak muda di seluruh dunia yang berusia kurang dari 25 tahun sudah menjadi penyalahguna narkoba.

Sementara itu pengguna perempuan juga mengalami peningkatan daripada pengguna laki-laki. Jumlah tahanan perempuan mencapai 714.000 orang. Disebutkan juga bahwa perempuan mengalami resiko gangguan lebih tinggi daripada laki-laki.

Penggunaan narkoba jenis kokain mengalami tren peningkatan di Asia Tenggara. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan dan permintaan secara keseluruhan terhadap kokain, yang kemudian menciptakan pasar-pasar baru di kawasan ini.

Ancaman penyelundupan narkoba di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, tak bisa dilepaskan dari keberadaan sindikat narkoba di  golden triangle (segitiga emas), yang meliputi negara Thailand, Laos, dan Myanmar. Penyelundup dari tiga negara ini memang secara aktif mengedarkan narkoba, khususnya jenis kokain dan heroin.

Oleh karena itu perlu penanganan dengan cara menekan prevalensi penyalahguna narkoba sehingga pasar penyalahguna narkoba tidak berkembang. Kawasan Golden Triangle (segitiga emas) perlu ditangani karena merupakan pemasok narkotika jenis sabu dan heroin.

Indonesia yang diwakili oleh Deputi Rehabilitasi, Diah Setia Utami melaporkan tentang kondisi penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

Prevalensi pengguna menunjukan penurunan dari 2,2 persen tahun 2014 menjadi 1,7 persen pada tahun 2017.

Pada bidang rehabilitasi Indonesia memiliki pusat Rehabilitasi yang terletak Lido Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.

Untuk melindungi generasi muda, permasalahan narkoba sudah dimasukan dalam kurikulum mulai tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.

Yang menjadi permasalahan adalah meningkatnya jumlah pengguna perempuan.  Di indonesia presentase pengguna perempuan mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2014 sebesar 14 persen kemudian mengalami  peningkat 22,5 persen  ditahun 2017.

Sedangkan faktor penyalahgunaan pada anak muda  dimulai dari ketidaktahuan mereka tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Pengawasan orang tua yang longgar menyebabkan anak muda mencoba menggunakan obat batuk atau lem (termasuk obat keras) untuk merasakan sensasi euforia. (osc/ilham)

#HANI2018 #ListenFirst #WorldDrugDay #stopnarkoba #cegahnarkoba

Page 1 of 12
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…